Senin, 24 Maret 2014

sahabat weker






Aku tersentak.
Bayangan mimpi tadi masih berkeliaran di kepalaku. Bangun pagi, sarapan pergi ke sekolah..
“ya ampun sekolah!” aku panik. Jam menunjukkan pukul 07.15.  wah, pasti telat banget. Mandi dan sarapan kulakukan dengan kecepatan bak pembalap Lorenzo. Sampai ibu dan ayah geleng-geleng kepala dibuatnya.
“jadi, ibu bangunin tadi, kamu belum juga bangun?” sapa ibu
“sudah SMA loh nak, masih suka telat gitu,”
Aku tidak bisa menggubris kata-kata mereka lagi.
“yah, bu, Rika pergi ya,” kutarik tangan mereka berdua untuk salaman. Aku pun berlari, untuknya jarak sekolah ke rumahku dekat. Tapi, jam sudah menunjukkan pukul 07.35.
Ditengah kepanikan itu, terlintas ingatan jadwal hari ini. Bukannya masuk jam 07.45?
“syukurlah tepat waktu,” aku lega. Lega sekali. Bukannya apa-apa. Inikan hari pertama orientasi siswa baru, masak telat sih.
Kemudian aku berkenalan dengan Siska.
“kamu yang tadi hampir telat ya?”
“he he, iya, aku memang suka begitu,” ternyata aku hampir telat tadi.
“aku Siska, kamu?”
“Rika,”
Kemudian kami diam. Kehabisan bahan omongan.
“Sis, kamu tinggal di mana?”
Lama Siska terdiam. Apa aku mengucapkan sesuatu yang salah tadi?
“eh, maaf, apa ada yang salah dengan pertanyaanku?”
Siska tersenyum.
“haha, nggak kok Rik, aku sedang berpikir, bagaimana menjelaskan tempat tinggalku padamu,” jelasnya.
“maksudnya?”
“aku tinggal di seberang sungai, dekat pasar itu loh Rik,”
Aku takjub. Dekat pasar? Berarti jauh banget.
“jauh dong?”
Ia mengangguk, “ia, sekitar tiga kilometer,”
Aku takjub, wow! “kamu, pake apa ke sini?”
“sepeda,” dengan santai Siska menjawab.
Aku malah lebih takjub lagi. Sepeda?
Satu minggu setelah masa orientasi, kami belajar seperti biasa. Dan tentunya masuk pada jam biasa. Jam 07.00. Jam yang aku tak pernah datang tepat waktu dari dulu.
“telat lagi Rik?”
“iya nih Sis,”
“kamu nggak pasang weker? Atau minta dibangunin papa mama kamu?”
Aku merenung sejenak. Weker? Ada empat buah kali di kamar. Semua aku setting pada jam 05.00 pagi. Dan ibu? Atau ayah? Mereka bergantian bangunin aku dari dulu, tapi tetep aja, setelah bangun, sholat subuh, lalu aku tidur lagi. Itulah masalahnya.
“oh, jadi kamu tidur lagi?” Tanya siska setelah kujelaskan apa adanya.
“iya, ngantuk banget sih,”
“pantesan aja,”
Kami tertawa, lalu aku penasaran, kenapa Siska nggak pernah telat ke sekolah. Padahal rumahnya kan jauh banget.
“kok kamu nggak pernah telat Sis?”
“aku selalu bangun jam 04.30 pagi, ya, setelah itu aku nggak bisa tidur lagi. Soalnya kan langsung siap-siap berangkat,”
“oh,”
Pagi ini, pak maman sudah mulai mengajar di papan tulis, beliau hanya geleng-geleng kepala melihatku terlambat lagi.
Bangkuku kosong? Berarti Siska nggak ada. Apa dia ke toilet?
Teng.. teng.. teng..
Bel istirahat berbunyi. Dan aku masih sendiri. Artinya Siska beneran nggak masuk.
“halo, ini Siska kan? Kok nggak masuk Sis?”
“eng, sepedaku rusak Rika, dan nggak ada yang bisa nganter aku pagi-pagi,”
“oh, begitu, ya udah, nanti kamu pinjem catatanku aja ya,”
Iya, makasih Rik, udah dulu ya,” Siska menutup pembicaraan kami.
Keesokan harinya Siska tidak masuk lagi. Mungkin sepedanya masih rusak. Kemudian aku terpikirkan suatu ide yang sangat cemerlang.
“tapi, aku nggak bisa ngerepotin orang Rik,”
Aku menyampaikan ideku pada Siska, yaitu untuk tinggal dirumahku saja.
“nggak kok,”
“aku juga nggak mau hutan budi sama orang, pake apa aku membalas kamu nanti?”
“gini aja, aku kan susah banget bangun pagi, jadi kamu jadi weker aku aja?”
Kening Siska mengkerut. Tak lama, bibirnya pun tersenyum. Dan ia mengangguk tanda setuju.
“yes! Makasih ya Sis,”
“nggak, aku yang harusnya bilang itu,”
Masalah beres, aku sudah punya weker baru yang membuatku tidak telat lagi. Dan Siska, kini bisa berangkat sekolah, meskipun sepedanya rusak.
Indahnya persahabatan.

bunga berbicara



Bunga Berbicara
“kalian pasti senang ya, hujannya cukup lebat, pasti banyak air untuk persediaan kalian,”
Aku memperhatikan tingkah mila di taman. Dia sedang bercengkrama dengan bunga-bunga. Anak ini agak berbeda dengan yang lain, dia lebih suka menyendiri ke taman dan bicara dengan bunga daripada bersosialisasi dengan teman-temannya.
Perlahan kuhampiri mila, kupasang wajah seramah mungkin.
“mila,”
Gadis kecil itu menoleh sesaat kepadaku. Kemudian kembali dengan bunganya.
“kamu nggak ikut main sama teman kamu?” kucoba berinteraksi dengannya.
“ini aku lagi main sama temanku,” jawabnya tanpa menoleh
“maksud ibu, main sama tiara, andin, sukma,”
Lalu dia menatap tajam terhadapku. Aku terkejut, itu bukan tatapan biasa yang dimiliki seorang anak kecil seumuran mila.
“mereka bukan teman, mereka monster,” kemudian mila pergi meninggalkanku yang masih tercengang dengan pernyataannya.
*
Aku guru baru di sini. Di tk yang sudah bertahun-tahun di bangun ini aku ditugaskan. Walau baru dua hari, aku mulai mengenal sosok-sosok mungil yang berkeliaran di sini. Terutama mila.
“mila itu memang pendiam, sejak masuk sini, dia jarang sekali berinteraksi dengan temannya. Kalaupun iya, pasti berbentuk hal negative,” ungkap ibu kepala
Aku masih belum paham dengan maksud beliau,”negative maksudnya?”
Kulihat ibu kepala menghela nafas,”seperti bertengkar, kekerasan fisik, dan lain-lain, pemicunya karena mila sering di ejek, sehingga dia kesal dan memukul anak-anak lain,”
Aku mengangguk, pantas saja mila bilang kalau temannya itu monster.
“memangnya, ejekan apa yang membuat mila demikian marahnya bu?”
“anak-anak itu mengatainya orang gila, karena mila sering bicara sendiri atau bicara pada bunga,”
Aku paham sekarang.
*
Kedatanganku pagi ini ke kelas a1 langsung diwarnai oleh hal yang kurang mengenakkan. Mila menjambak rambut tiara, dan bukannya melerai, anak-anak lain malah ikut mrnyoraki. Dasar anak-anak.
Aku memisahkan mereka berdua, “ada apa ini?”
“orang gila ini bu, jambakin rambut aku,” jawab tiara
“dia duluan ngatain aku,” balas mila disertai dengan tatapan tajamnya.
Lalu perkelahian akan dimulai lagi, namun secepatnya aku melerai. Lalu kuambil tas mila dan kuajak dia keluar. Ke tempat kesukaannya. Di taman.
Ku ajak dia duduk disampingku, lalu kuberi ia lollipop sebagai penenang. Tidak seperti anak lain yang biasanya langsung menerima bila ku beri benda seperti ini, mila melihatpun tidak. Sepertinya dia tidak berminat. Lalu aku beranjak mengambil satu bunga yang telah gugur. Kuberi padanya dan seperti dugaanku, dia mengambil bunga itu.
“mila kenapa kok tadi gitu sih? Mila kan anak baik,”
Mila mengusapkan bunga itu ke pipinya, lalu membisikkan sesuatu seakan bunga itu adalah sahabat terbaiknya.
“mila nggak suka ya punya banyak teman?” tanyaku lagi
“aku suka punya banyak teman,” mila membuka suara. “tapi bukan dengan mereka,”
“lalu mila ingin berteman dengan siapa?”
“mereka,” mila menunjuk ke depan, samping dan belakang. Tak kulihat siapapun. Hanya kumpulan bunga- bunga yang warna-warni.
“siapa?” kemudian tanganku ditarik mila. Kami menuju ke kumpulan bunga.
“dia,” mila menunjuk salah satu bunga itu, “dia temanku. Begitu pula yang lainnya. Mereka tidak pernah mengejekku, mereka selalu mendengarkan ceritaku,”
Kemudian mila mengusap-usap bunga kering yang kuberikan tadi,”apa menurut ibu, aku ini seperti yang anak-anak itu katakan?”
Aku terhenyak, ternyata mila menanggapi ejekan anak-anak itu. Lalu kucoba tersenyum dan mengusap kepala mila.
“menurut mila sendiri bagaimana? Apakah mila terlihat seperti yang mereka katakan?”
Mila menatapku dan menggeleng, “enggak,” tukasnya.
Aku ajak dia duduk dibangku taman.
“mila bisa bicara dengan mereka ya?”
 ‘mereka’ yang aku maksud adalah bunga yang selalu diajak mila bicara. Dia mengangguk, lalu mendekatkan bunga yang tadi kuberikan padanya ditelingaku.
“ibu dengar dia berkata apa?”
Terang saja aku mengerutkan keningku. Bagaimana aku bisa mendengar sesuatu yang tidak bisa mengeluarkan suara?
Lalu mila mendekatkan bunga itu ditelinganya dan mengangguk-angguk seakan benda yang sudah hamper layu itu mengatakan sesuatu padanya.
Dan aku melihat sesuatu yang jarang sekali kulihat, bahkan seingatku belum pernah kulihat. Senyuman mila. Selama ini ekspresinya datar, atau sinis dengan tatapan tajamnya. Tapi kali ini, setelah mendengar ‘bisikan’ dari bunga itu, dia tersenyum.
“dia bilang, dia senang ibu di sini,” katanya padaku. “aku juga senang bisa bersama ibu sekarang,” kemudian mila memelukku. Aku sedikit kaget dengan tingkahnya. Lama baru mila melepaskan pelukan eratnya padaku.
“bu, ibu maukan antar mila pulang?” Tanya mila seusai memelukku.
Aku bingung, aku sama sekali tidak tau dimana anak ini tinggal.
“tapi, ibu nggak tau mila tinggal dimana, lagipula nanti yang biasa jemput mila jadi khawatir karena mila nggak ada di tk,” aku memang melihat mila selalu dijemput mobil mewah setiap hari. Tapi aku tidak tau siapa yang menjemput, mungkin ayahnya, ibunya, atau bisa saja sopir orang tuanya.
Kemudian mila mengeluarkan sesuatu dari dari dalam tasnya. Dan betapa terkejutnya aku melihat benda yang kini sedang digunakan gadis kecil itu. Sebuah smartphone yang baru-baru saja hangat dibicarakan akhir-akhir ini. Aku tak habis pikir, kenapa barang secanggih itu sudah berada ditangan anak berumur lima tahun yang masih sangat-sangat kecil untuk memilikinya. Lalu kulirik handphone butut di saku bajuku. Sedikit meringis hati ini.
“mak inah, bilang pak gatot nggak usah jemput mila ya, mila pulang sama ibu guru,” dan terdengar bunyi klik pertanda hubungan diputus, sepertinya orang yang diseberang sana belum sempat menjawab kata-kata mila. Belum selesai rasa kagetku, mila menarikku menuju parkiran, tempat biasa aku memarkir kendaraanku.
“ibu!” mila menghentakkan kakinya dan membuyarkan lamunanku.
“ada apa mila?”
“ibu pakai apa?” aku paham maksudnya, pasti dia menanyakan kendaraan yang kupakai.
“motor,” tukasku membuat mila sontak melompat kegirangan, aku heran, memang seberapa hebat naik motor dibandingkan dengan kendaraan yang biasa menjemputnya.
“asyik! Aku belum pernah naik motor sekalipun bu,”
Dan aku pun paham sebabnya dia melompat seperti itu
*
Ternyata jarak rumah mila ke tk lumayan jauh juga. Atau mungkin mila yang berputar-putar saat menunjukkan jalan padaku. Entahlah. Yang jelas sekarang kami telah berhenti di depan sebuah rumah megah nan artistic yang mempunyai pagar tinggi sekali. Lalu mila berlari ke pojok pagar dan memencet bel. Tak lama, pintu pagar terbuka dengan sendirinya dan mila mengajakku masuk ke rumah dengan halaman yang luas serta dipenuhi bunga-bunga.
Sesampainya di dalam, kami langsung disambut oleh seorang wanita yang kira-kira umurnya  diambang 50an.
“mak inah, ini bu guru,” mila memperkenalkanku pada wanita yang dipanggilnya mak inah itu.
“oh, saya inah, pengasuhnya non mila. Mari den guru, masuk,”
Oh, ternyata pengasuhnya, pikirku. Dan akupun masuk ke rumah besar yang tampak lenggang itu. Aku duduk dan mila berlari menaiki tangga.
“den guru mau minum apa?” Tanya mak inah.
“oh nggak usah, jadi ngerepotin, saya kesini Cuma nganterin mila aja kok,”
“oh tidak apa-apa den guru, sudah tugas saya, sebentar ya den,” kemudian wanita itu bergegas masuk ke dalam.
Aku memperhatikan sekeliling rumah ini, besar memang, namun tak Nampak warna keceriaan. Mungkin karena sepi. Lalu kulihat beberapa poto yang dipajang di meja, ada seorang pria dengan seorang wanita. Mungkin ayah dan ibu mila, lalu kulihat poto mila besama lelaki itu. Sudah bisa kutebak mereka adalah orang tua mila.
“ini minumnya den guru, silahkan,” aku tersenyum lalu minum tanpa melepaskan pandanganku pada poto itu.
“maaf sebelumnya, kalau boleh saya tau, ayah ibu mila kemana ya?”
Terlihat jelas perubahan raut wajah mak inah. Aku sedikit menyesal telah mengeluarkan pertanyaan itu. Namun baru saja aku mau meminta maaf dan menarik pertanyaanku, mak inah buka suara.
“ayah mila sedang bekerja sekarang, kalau ibu mila…,”
Kemudian mak inah bercerita semua tentang kehidupan mila. Dari beliaulah aku tau kalau ibu mila meninggal ketika mila berusia tiga tahun, usia yang masih sangat membutuhkan kasih sayang ibu. Kemudian, pak banu, ayah mila, menikah lagi dengan seorang wanita karir yang super sibuk. Sehingga mila tetap tidak bisa merasakan kasih sayang seorang ibu. Sewaktu masih hidup, ibu mila sangat suka pada bunga, dari kecil, mila sudah diperkenalkan dengan bunga yang ada di halaman rumahnya. Mungkin itulah sebabnya mila merasa senang bila bersama bunga, membuat kerinduan pada ibunya terobati, simpulku.
Aku sedikit paham sekarang mengenai sikap mila selama ini. Mungkin ini sebabnya. Karena ia selalu merasa kesepian, dan menganggap hanya bungalah yang mampu mengobati kesepiannya itu.
Setelah ngobrol cukup lama dengan mak inah, serta bergurau dengan mila, aku pun pamit pulang. Awalnya mila tidak mengijinkan, malah memintaku untuk menginap dan menemaninya tidur. Tapi setelah aku berjanji setiap hari akan berkunjung ke sini dan menemaninya, dia melepaskan aku pergi, walau dengan tatapan sendu.
Sepanjang perjalanan pulang, aku merenung. Gadis kecil seperti mila yang haus akan kasih sayang seharusnya bisa mendapat perhatian lebih dari orang terdekatnya, bukan pengasuh, melaiinkan orang tua. Hal ini bisa berpengaruh pada psikologi mila, dan yang kutakutkan, bisa membawa dampak negative terhadap perkembangan mila.
Aku berjanji pada diriku, akan ku buat mila tidak kesepian lagi, harapan terbesarku, mila bisa berubah, dan mulai bisa bersosialisasi dengan teman sebayanya. Bukan dengan bunga.

Minggu, 23 Maret 2014

4 hal yang dibutuhkan penulis

nah, setelah beranalogi, bang tere memberikan 4 hal untuk penulis.
1. topik tulisan bisa apa saja, tapi penulis yang baik selalu menemukan sudut pandang yang spesial.
topik tulisan bisa apapun, bahkan dengan kata hitam, kami bisa menemukan begitu banyak cerita. namun, jika sudut pandang yang digunakan sama saja, hitam adalah warna, kelam, gelap, malam, misalnya, maka, tulisannya pun akan itu-itu aja. 
karena itu diperlukan sudut pandang yang spesial, yang tidak hanya memandang hitam sebagai warna.
jadi, sudut pandang yang spesial adalah yang bisa dipikirkan oleh kita, namu tak terpikirkan oleh orang lain. sehingga, yang membacanya akan menganggap hal tersebut keren.
jadi, temukan sudut pandang yang spesial. tidak mudah memang, tapi biasakan.
namun, jangan cemas bila orang menganggap tulisan itu tidak menarik, tetaplah menulis, dan jangan menyerah oleh kritikan orang.
2. penulis membutuhkan amunisi.
amunisi seperti apa? membaca, menambah ilmu, mengamati, mengobservasi, memperhatikan, bertanya. amunisi ini juga bisa bearti memperhatikan hal yang detail, yang tidak dierhatikan orang kebanyakan, itulah amunisi yang kita perlukan
3. kalimat pertama adalah mudah, gaya bahasa adalah kebiasaan, dan menyelesaikannya lebih gampang lagi.
nah, gaya bahasa itu kebiasaan, ketika melihat tulisan orang yang gaya bahasanya indah, itu karena menjadi hal yang biasa bagi dia. kata bang tere, orang melayu itu sangat pandai bercerita, karena itu, jangan rendah diri untuk menulis.
kemudian, ada seorang yang bertanya kepada bang tere di suatu workshop, 
"bang tere, bagaimana cara menyelesaikan cerita yang baik"
jawaban bang tere cukup menggelikan, "tinggal ditambahkan di akhir paragraf kata TAMAT, maka, selesailah sudah cerita itu"
itulah yang terjadi pada novel hapalan sholat delisa, ketika pikiran jenuh, maka, saat ceritanya delisa menemukan kalung ddi tangan uminya, dan bang tere sudah mentok, maka beliaupun menuliskan kata tamat. dan sampai saat ini, belum ada yang pernah protes dengan ending cerita itu :)
4. bisa karena biasa.
bang tere bercerita.
"dulu, ketika saya pulang ke palembang, ibu saya suka sekali memasakkan sayur rebung, karena itu tidak terdapat di depok. kemudian, dengan menggombali ibu saya, saya bertanya.
masakan mamak ini sungguh enak, bagaimana cara masaknya? kemudian ibu saya menjawab, ya, dimasak2 aja. begitulah sampai tahu berikutnya saya pulang kembali dan menanyakan hal yang sama. jawabannya tetap sama juga.
untuk membuktikannya, saya bangun pagi2, ke dapur dan melihat ibu masak, 
beliau ambil rebung, dipotong-potong, ambil ini ambil itu, dan setelah masak di masukkan ke mangkuk, dan hasilnya, memang enak.
begitulah, untuk penulis, ya tulis2 aja, apa saja, maka akan terbiasa nantinya..

itulah hal2 yang bang tere berikan untuk kami, ceritanya panjang sih, tapi, ane bingung mau nulisnya gimana.. he he,,
itu dulu, kalau ada yang ane bisa share, insya Allah ane post lagi di sini :)

tere liye in pontianak

ini kali kedua saya bertemu dengan bg tere. wow!
lebih wow lagi, karena kali ini adalah seminar tentang menulis, full. bukan tentang cinta seperti sebelumnya.
oke, akan saya ringkas dikit materi dari bg tere
menulis adalah proses menumbuhkan sesuatu di hati. kenapa saya harus menulis? temukan jawabannya sendiri di hati anda.
ada sebuah analogi yang diceritakan oleh bg tere,
di suatu tempat, ada 3 sahabat, yaitu pohon kelapa, penyu, dan burung pipit. mereka bersahabat lama sekali. sejak pohon kelapa masih berupa tunas, burung pipit masih berupa telur, dan penyu masih berupa tukik.
nah, kemudian mereka masing2 pergi, berpisah hingga 3 tahun lamanya, dan ketika kembali, mereka menceritakan apa yang sudah dilalui oleh mereka selama 3 tahun itu.
pertama yang bercerita adalah burung pipit,
burung punya sayap bukan? dan dengan sayap itu, dia terbang, hingga ke pulau seberang, menyaksikan keindahannya. dan cerita dari si burung benar2 menakjubkan.
dan kemudian giliran penyu yang bercerita. pernah nonton finding nemo? kalau pernah, tau kan kalau penyu bisa berenang sangat jauh. nah, si penyu ini berenang jauh hingga menyebrangi benua2. dan ceritanya tentu lebih menakjubkan lagi.
dan terakhir, tibalah saatnya pohon kelapa itu bercerita,
pernah lihat pohon kelapa bergerak? jangankan terbang, atau berenang hingga ke benua lain, ngesot aja, si pohon ngga bisa.
namun, ada suatu pelajaran yang bisa di petik dari si pohon kelapa. ketika dia tumbuh besar,, menghasilan banyak buah, dan kemudian buahnya jatuh dipesisir pantai, dan dibawa oleh ombak, maka buah2nya itu akan tumbuh kembali di tempat22 yang entah dimana.
siapa tahu, kalau pohon kelapa yang tumbuh di pesisir pantai kalbar ini berasal dari buah kelapa di china?
begitulah, dan kedua sahabat pohon kelapa itu berseru.
"wah, jangan2, pohon kelapa yang aku lihat di pulau seberang berasal dari kamu" kata burung pipit
"dan pohon kelapa di benua yang aku lihat jangan2 dari kamu?" sahut penyu pula.
begitulah,,
mungkin si pohon kelapa tidak bisa seperti burung atau penyu. tapi lihat, kemanfaatan yang dimilikinya. buahnya akan pergi mengelilingi tempat2 yang entah di mana.
begitu pula dengan menjadi penulis. kemanfaatan akan tersebar melalui tulisan2 itu.

nah, itu awal perbincangan dengan bang tere.
bersambung dulu ya, akan di lanjutkan di postingan berikutnya  :D

Selasa, 04 Maret 2014

perbedaan. akankah jadi penghalang?
akhirnya, pikiran saya sedikit terbuka mengenai pergerakan. masalah yang sebelumnya tidak pernah nyantol di pikiran.
namun, saya jadi sedikit khawatir untuk ikut memilih ikut yang mana. pasalnya, ini sarat akan konflik.
padahal, kita ini kan umat yang satu. kenapa masalah sistem harus  menjadi perdebatan, yang memecah belah.
bukankah seharusnya, kita saling menyadari dan mengoreksi apa hal keliru yang membat imej kita memburuk,
semua memang merasa benar.
namun masalahnya adalah mereka saling memperdebatkan kekurangan masing2. padahal, seharusnya saling menutupi, dan bersatu memerangi musuh2 islam yang sesungguhnya.
mungkin, di luar sana, musuh2 Allah yang sesungguhnya tengah menertawakan perpecahan di kalangan kaum muslim. atau bisa jadi, mereka sedang menyusun rencana untuk menguasai dunia dan menghilangkan peradaban islam. bisa jadikan?
ah, apakah kita terlalu sibuk dengan sistem yang berbeda? atau, mungkin, niat di hati telah berubah? entahlah, semoga saja tida.
semoga, nanti, kita tetap bisa menjadi satu umat, yang bersatu bersama melawan musuh Allah yang sesungguhnya.

ya, saya masih awam tentang ilmu ini, mungkin, untuk tulisan berikutnya saya bisa menambah sedikit ilmu saya lagi.
afwan wa syukron ;)

Minggu, 26 Januari 2014

sebongkah perasaan

bukan teorema, bukan lema, definisi, sifat, algoritma, dan lain sebagainya.
ini hanya sebuah hipoesis yang masih belum diuji kehomogenitasannya, kenormalitasannya, atau dianalisa dg varians.
namun, berdasarkan analisa beberapa kasus setahun terakhir ini, saya benar2 bisa berhipotesis.
bahwa perasaan itu bergerak dinamis, dia tidak statis,
maka, jangan pernah berpikir bahwa sebongkah perasaan yang dulunya hanya sekecil upil, akan tetaap seperti itu hingga bertahun2 lamanya.
mereka bisa tumbuh dan berkembang pabila diberi nutrisi yang cukup. nutrisi berupa interaksi, sapaan hangat, perhatian, dan lain sebagainya.
mereka juga bisa menyusut, bahkan hilang sama sekali pabila kekurangan nutrisi itu.
mungkin, hal ini yang terjadi pada pasangan yang nikah, cerai, nikah lagi, cerai lagi. mereka tak memberi nutrisi yang cukup untuk perasaan itu.
bongkahan perasaan yang dulunya sebesar everest, jika dibiarkan begitu saja, cepat atau lambat akan semakin kecil hingga ia hilang sama sekali.
dan mungkin yang terjadi pada pasangan yang hingga usia lanjut masih tetap seperti dulu adalah, bongkahan perasaan itu terus diberi nutrisi. dan, mungkin namanya bukan lagi cinta, tapi lebih ke rasa sayang.
tentunya, hal ini terjadi pada pasangan dg ikatan legal dari kua.
lantas, bagaimana yang hanya memiliki label ilegal (bagi saya pribadi) atau yang biasa disebut dg pacaran?
well, mungkin saya tidak mau membahasnya lagi.
tapi, buat saudara2 saya yang kini merasakan sebongkah perasaan itu hadir dalam hati, segera sadari dan ambil keputusan.
bila merasa masih muda, belum ingin menempuh jenjang kehidupan yang lebih tinggi, maka lebih baik biarkan bongkahan itu menciut, karena, akan menimbulkan dampat yang cukup dramatis bagi kehidupan.
namun, jika sudah merasa matang, dan siap menempuh hidup baru, maka persiapkanlah. jangan menunda hingga bertahun2 lamanya

Sabtu, 04 Januari 2014

lets start working


gas naik, listrik naik, mungkin beberapa waktu lagi semua bahan pangan, sandang dan papan ikutan naik.
pasti di tv nanti akan ada berita demo di mana-mana, sampai bakar-bakar, sampai melakukan tindakan yang sangat anarkis
saya ingat ketika waktu itu harga kedelai melambung sehingga pedagang tempe dan tahu kesulitan mendapatkan bahan produksi. bukannya mencaari bahan alternatif atau solusi, ehh, malah merusak tempe yang sudah jadi, membuang-buangnya, alasannya sih karena protes dengan pemerintah. heloo?? emangnya mereka peduli? syukur-syukur deh kalau ada yang prihatin.
gak tau nih yang ini, jangan2 pada bakar gas kali ye? :p meleduk dong!
lets start working, coba lihat di jatim, ada warga yang menggunakan gas alternatif dari bahan kotoran hewan, malah udah 4 bulan mereka menggunakannya, bisa untuk penerangan pula. bukankah bisa menyelesaikan masalah?
nah, kalau mau berusaha kan bisa di atasi, ,bukannya mengeluh terus , protes, demo sama pemerintah. lha wong pemerintah itu gak cuma ngurusin gas naik, listrik naik doang. berpikir positif aja, mereka nggak ngrusin hal2 seperti itu mungkin bukan karena nggak perduli, tapi, ada banyak masalah yang jauh lebih urgen yang harus di tanganin.
jadi rakyat gak mesti minta di suapin melulu samapemerintah, coba deh cari usaha sendiri. bukannya gak mungkin usaha yang kita lakukan itu menjadi inspirasi buat banyak orang. nah, amal jariyah kan jadinya :D
dan hal ini bisa kok di mulai dari hal yang kecil.
seperi ngerjain tugas, baik itu individu atau kelompok, jangan terus menunggu yang lain mengerjakannya, coba deh kita yang cari sendiri, bisa nggak bisa itu urusan belakang dah, yang penting usahanya dulu bro :)
nah, jadi, mulai sekarang, lets start working and stop complaining