Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Oktober 2015

kurasa, aku mulai menyukaimu

~~~~~~~~
aku tidak tau sejak kapan, tapi kurasa aku mulai menyukaimu.
sejak dulu, aku bukan fans ataupun haters dirimu. hubungan kita pun biasa saja, tak ada yang istimewa.
dan, kau begitu rumit, pikirku dulu. susah sekali untuk memahami dan mengenalmu lebih dalam sehinggga aku terbiasa untuk mengenal dirimu dari luarnya saja. bahkan aku sempat ingin menyerah saja padamu
walaupun begitu,  kau bukanlah orang asing, kita telah bersama dalam waktu yang lama, meskipun bukan dengan hubungan yang istimewa. aku tak pernah dengan tega menganggapmu sebagai monster. karena kau bukan monster. pun aku terkadang lebih mudah memahami dirimu dibanding yang lain.
mungkin, dulu aku saja yang tak ingin mengenalmu lebih dalam, kupikir, masih banyak yang bisa aku kerjakan daripada menghabiskan waktu denganmu.
hingga, sepertinya garis takdir telah membuat kita harus bersama. aku juga tak merencanakan untuk membersamai dirimu. tapi, beginilah keadaan sekarang. tiga tahun, aku berjuang mengenalimu, melewati rintang, bergadang malam-malam. dan masa itu telah membuatku menyadari suatu titik dimana, aku mulai menyukaimu.
kita memang belum terlalu jauh mengenal, masih banyak hal dari dirimu yang belum kuungkap. tapi aku tau, bahwa kau sebenarnya tidaklah rumit. kau sangat sederhana jika saja orang-orang mau mengenalmu. dan sejujurnya aku juga ingin mereka menganggap kau sederhana.
terkadang aku sedih, banyak orang masih menganggap dirimu monster. padahal kau bukan, mereka hanya tidak memahamimu, tidak mengenalmu. dan aku ingin mengubah persepsi itu.
kau tau, aku sangat ingin segera mengakhiri jenjang ini, bukan karena aku tidak ingin membersamaimu lagi, bukan karena aku sudah cukup mengenalmu. justru karena aku belum begitu dalam mengetahui akan dirimu, aku harus segera selesai di sini dan melanjutkan ke yang lebih tinggi lagi agar dirimu dapat kukenali dengan lebih baik. agar bisa memahami dan memandang semua kerumitan dirimu sebagai sebuah kesederhanaan. :)
dear math..
karena aku mulai menyukaimu, aku tidak akan menyerah padamu…
math :)
~~~~~~~
catatan hati matematikawati yang sedang gelisah menanti inspirasi untuk satu lagi judul outline buat di ajukan :|
wkwkwk…
tapi Alhamdulillah,
saya pikir, inspirasi ini tak akan datang begitu depat, tapi Allah benar-benar memudahkan jalan untuk bertemu dengan inspirasi :D

Minggu, 19 April 2015

bantuan



Jangan bantu mereka!
Terkadang, sikap orang yang lebih tua suka agak berlebihan, bukan bermaksud menyalahkan mereka, tapi memang begitulah faktanya. Rasa sayang membuat mata rabun untuk melihat mana yang baik mana yang justru menyesatkan.
Membantu tentu saja suatu perkara yang baik. Perbuatan terpuji yang memang diharuskan untuk kita, manusia lakukan. Membantu seperti apa dulu tapi?
Saya mengajar anak-anak pra SD dan SD kelas 1. Tentu saja, sebagian besar orang tua mereka juga ikut menemani. Ini bagus, anak akan merasa mendapat dukungan saat mereka didampingi orang tua, atau saudara. Hanya saja, saya punya sistem yang agak berbeda dengan segelintir dari mereka. Saya ingin anak-anak itu bisa sendiri. Mengenal huruf, mengeja, membaca sepatah dua patah kata karena usaha sendiri. Walau prosesnya lama, tapi dengan usaha itulah sang anak dapat mengingat lebih lama huruf yang sudah dikenalnya, dan mengeja apa yang sudah bisa terdeteksi oleh pikiran mereka. Sama sekali saya tak melarang untuk membantu, tapi, jika berlebihan, kasihan si anak.
Begitu pula saat anak sudah menginjak bangku akhir setiap jenjang pendidikan. Tak jarang, para tetua ‘membantu’ mengerjakan soal ujian. Tentu saja, karena mereka ingin anak2nya lulus, nilainya gemilang, lancar jalannya, namun, ini sangat berbahaya bagi mereka.
Ada baiknya, jika sikap percaya diri anak memang ditumbuhkan sejak kecil. Percaya diri bukan hanya bicara soal mereka yang mampu belenggak lenggok di atas panggung, bernyanyi ria di depan khalayak, berbicara dengan lancar tanpa cela, tapi percaya diri juga bagaimana mereka bisa percaya akan kemampuan mereka sendiri, tanpa terus mengharapkan bantuan orang lain. Mereka percaya bahwa apa yang mereka hitung, hapalkan, ingat, terka adalah jawaban yang tepat. Andaipun jawaban itu salah, peran kita sebagai tetua justru harusnya memotivasi lagi, bahwa tandanya mereka harus belajar lebih giat, bukannya meminta ‘pertolongan’ orang lain.
Lagipula, jika pun ingin membantu, bantulah mereka saat proses pembelajaran, bertahun-tahun sebelum ujian dilaksanakan. Toh itu sangat membantu banyak, bahkan mungkin sampai mereka dewasa nantinya.

Sabtu, 07 Maret 2015

wanita dan belanja

wanita identik dengan belanja? kenapa?
mungkin ini memang tugasnya, belanja. lha memang siapa lagi? yg beli bahan makanan, yg beli pakaian anak-anak, pakaian suami, yg beli perabotan, alat  masak di dapur, nah. itu loh makanya wanita identik dengan belanja.
saya pun demikian, setiap libur pagi hari, saya belanja terus kok, belanja sayur, ikan, rempah2 :D
tapi, banyak orang mengartikan belanja itu yaa beli barang barang seperti baju, perhiasan, sepatu, tas, dan lain lain. padahal udah punya yah? trus buat apa lagi? 
ini tak berlaku buat semua wanita, untuk yg bekerja keras memeraih rejeki dari Allah, rasa rasanya tak gampang untuk mengeluarkan uang hanya demi koleksi barang2. lha wong kebutuhan sendiri aja masih belum cukup, mau koleksi pula.
dibandingkan mereka yg tinggal gesek saja, tentu wanita yg pertama ini sangat sangat memikirkan apa prioritas yg harus dibeli. at least, belanja bukanlah menjadi pilihan hobby mereka.
well, hanya meluruskan saja, wanita tidak identik dengan belanja yg beginian, kalau belanja pada umumnya sih iya. jadi, jangan salahartikan seorang wanita ya ;)

Kamis, 16 Oktober 2014

alone and tears

Terkadang, saya berpikir untuk pergi ke suatu tempat seperti ke pantai yang sepi, hanya sendiri. Kemudian berjalan melewati deburan ombak, membiarkan air yg asin meninggalkan sisa2 garam di kaki. Merenung sendiri, di dalam suasana sepi. Hanya deburan ombak yg memenuhi telinga. Meninggalkan gemericik riuh rendah kehidupan saat ini.
Ada kalanya kita butuh sendiri. Hanya berbicara dengan hati. Meluapkan seluruh keluh kesah pada Allah, dan membiarkan air mata tumpah ruah.
Ada saat2 dimana hal itu menjadi sesuatu yg saya rindukan. Bebas menumpahkan seluruh rasa dan air mata kepadaNya.
Menahan air agar tak keluar dari mata itu sakit. Tapi saya sudah terbiasa. Membiarkannya terpendam dalam hati, menampilkan senyum dibalik rasa tak tentu, mengalihkn pikiran ke hal yg menyenangkan.
Walau terkadang, bendungan itu jebol juga.
Saya bukan orang yg terampil bercerita. Pemalu pula. Jadi, saaya lebih suka menumpahkan semuanya pada Allah ketimbang ke yg lain. Lebih bebas menangis sepuasnya.
Ada rasa sesekali ingin bercerita ke seseorang. Tapi, entah mengapa niat itu luntur seketika. Ada hal yg saya rasa mereka tak akan memahami. Bahkan memperburuk keadaan. Ada hal yg mungkin tak ada yg boleh tau. Walau itu adalah masalah yg butuh sebuah solusi. Bukannya saya tak percaya pada sahabat dekat sekalipun, tapi, membiarkan mereka juga menanggung beban yg saya ceritakan, rasanya tak enak juga. Membuat mereka ikut berpikir keras, rasanya tak perlu. Intinya sataya tak ingin membuat orang repot. Lagipula, saya sangat malu jika menangis depan orang. Apalagi sampai bertumpah ruah air mata.
Jadi, memang jauh lebih baik menceritakan semuanya, menumpahkan semua pada Allah semata.
Lebih lega dan puas

Senin, 14 April 2014

ikhlas

tadi pagi, kemaren, berita tentang anggota DPR terus terdengar gaungnya, di fb, twitter, sudah banyak yang berkoar2 tentang mereka.
hanya melihat sih, memangnya saya bisa apa?
dari melihat itu saya bisa menganalisis, kenapa sampai beribu jiwa terganggu hanya karena tidak bisa menjadi orang yang menyalurkan aspirasi rakyat.
kalau dipikir dengan otak kekanakan saya sih, memangnya kenapa kalau tidak duduk di  DPR, kalau memang niatnya menjadi penyalur aspirasi, bukankah menjadi anggota DPR hanya salah satu jalan,? masih banyak kok jalan lain, seperti menjadi penulis (menulisnya gak mesti di buku, bisa di twitter, fb, blog, dll), penyair, penyanyi, dan masih banyak lagi. lalu kenapa sampai segitunya ingin menjadi penyalur aspirasi lewat menjadi anggota.
ohh, ternyata, dan baru saya sadari. ternyata iming-iming ketika menjadi anggota adalah diberikannya sederet fasilitas yang sangat memadai. kalau gitu, siapa yang gak mau coba? kerjanya mudah, rapat tinggal tidur saja, atau mangkir, aspirasi rakyat? masa bodo ah, toh mereka juga nggak tau.
hem, pantas. sangat pantas untuk orang-orang yang niatnya hanya untuk itu menjadi sangat depresi ketika tidak mendapat banyak suara. bayangkan saja, puluhan bahkan ratusan juta uang telah dikerok, tapi hasilnya? nihil.
begitulah, andai saja kalian bisa meniatkan benar-benar ingin menjadi penyalur aspirasi, tanpa iming-iming apapun,
andai saja kalian telah mengazzamkan bahwa kalian akan bekerja dengan sungguh2, mengemban amanah yang di berikan,
andai saja kalian tidak tergiur dengan kenikmatan dunia, dan lebih mengutamakan amalan itu untuk akhirat,
maka, mungkin tidak akan begini jadinya. tidak perlu menjadi sangat depresi.
mungkin, tidak perlu kalian mengeluarkan uang berjuta-juta untuk menarik suara, toh, jika benar2 dilakukan untuk membantu rakyat, seharusnya sudah dari dulu, jauuhh sebelum kalian mengajukan diri sebagai calon wakil rakyat, sudah dilakukan, sehingga, suara rakyat akan terhimpun dengan sendirinya untuk kalian,
intinya di sini adalah kerja ikhlas, niatkan dengan ikhlas, maka insya Allah,akan di mudahkan.
ya, jika tulisan ini menyinggung saudara2, karena ada kata2 yang cukup kasar -mungkin- saya mohon maaf,
saya hanya anak ingusan yang mencoba menjadi penyalur aspirasi kecil-kecilan, :D.


Senin, 07 April 2014

money politik

andai saja semua bisa berpikir begitu. menolah uang yang disodorkan para caleg nakal,
tapi, urusan perut jauh lebih penting, periuk kosong perlu diisi, anak2 juga mau jajan, mau beli mainan. dan uang 200 rbu pun teramat berharga untuk disiakan.
untuk apa repot2 memikirkan negara yang tidak memikirkan kami, begitu kata mereka.
lantas ini salah siapa?
mereka tak bisa disalahkan karena menerima uang itu, lha wong perut udah bergejolak minta disi.
nah, lantas ini menjadi ladang yang sangat subur buat para caleg nakal.
mungkin ini karena krisis kepercayaan.
betapa banyak yang menyalahgunakan kesempatan ketika sudah duduk di kursi itu.
dan rakyat yang membantu mensukseskan, ditolehpun tidak.
lantas ini salah siapa?
jangankan rakyat yang renta, mahasiswa yang katanya intelekpun, hanya segelintir yang berpikir untuk tidak menerima uang caleg.
ya, rejeki, kata mereka. alasannya? sama,
sepertinya slogan, dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat kini telah pudar.
dan rakyat jauh lebih menyadari itu dari pemerintah.
mereka jauh lebih peka dengan keadaan sekarang.
pemerintah dan rakyat, seperti hidup sendiri-sendiri, padahal, seharusnya bersatu membentuk suatu negara yang utuh.
itulah yang membuat krisis kepercayaan ini meruncing.

semoga lima tahun kedepan ini pemerintah dapat lebih peka, lebih memperhatikan, terutama yang sudah di beri amanah oleh segelintir rakyat yang masih memiliki sedikit rasa percaya pada mereka.


konflik

"aku benci konflik"
begitu kata patrick di suatu episode kartun spongebob.
saya sering menggunakan kata itu, akhir2 ini apalagi. begitu banya konflik tersebar baik di dunia nyata atau maya.
seperti biasa, ketika sedang panas2nya isu2 di pemerintahan, ada aja orang yang suka sekali membuat konflik.
tapi, yang membuat kesal adalah konflik ini seakan tak berujung. mereka berdebat tentang hal yang sudah jelas tak menghasilkan penyelsaian. debat kusirlah katakan.
satu tetap dengan pendiriannya, yang satu lagi terus mendoktrin,
ada apa ini? bukankah kalian masih dalam satu akidah? bukankah kita semua bersaudara? bukankah kita seharusnya membuat aman saudara kita dari lisan dan tangan kita?
mungkin konflik ini wajar adanya, tapi mengapa harus ditunjukkan seolah2 kita bukanlah umat yang satu?
mengapa harus di sebar luaskan? mengapa harus saling mencemooh untuk menunjukkan kalau pendapat mereka yang benar.

ah, mungkin, hanya mungkin, terlalu jauh hingga menganggap pendapat diri sendiri yang paling benar sehingga yang lain layak di cemooh. semoga tidak, hanya saja, jika begini terus bukankah para penyusup itu bisa masuk dan menghancurkan kita dari dalam?
bukan membela pihak mana, saya lebih suka netral. tak ada yang salah di sini, mungkin hanya sedikit terpeleset,
semoga Allah mengampuni kita semua, semoga hal2 yang terjadi sekarang ini tidak memperburuk keadaan.
semoga ukhuwah kita tetap terjaga, persaudaraan kita tetap kuat hingga membuat musuh2 lari tak tak sempat menyusup..
semoga..

pesta 5 tahun

siapa yg berpesta?
mungkin hanya juru kampanye, pendukung setia, artis2, para caleg, tapi tidak seluruh rakyat bisa menikmati pesta tahun ini.
terlalu jauh untuk berbicara perihal rakyat di desa terpencil, mungkin itu karena kurangnya sosialisasi. masyarakat di desa2 maju saja, tidak berpesta seperti seharusnya. bukan  soal golput, mereka memilih, tapi hanya sekedar formalitas.
mengapa demikian? saya rasa akibat turunya kepercayaan masyarakat kepada anggota dpr yg ntar akan naik di kursi pemerintahan.
"toh nanti kalau naik juga nggak mikirin kita"
"mereka tu mnta pekerjaan sama kita"
"buat apa toh pusingin mereka, nanti mereka enak2kn, kita yang susah"
"kalau udah kepilih, noleh aja enggak"
begitulah kata2 yang acapkali terucap, lalu ini salah siapa?
ada lagi yang menganggap pemilu hanya tradisi,
"sayang kalau nggak milih, kan 5 tahun sekali"

mungkin dalam pikiran kebanyakan, urusan perut aja belum kelar, mau ngurus urusan negara pula.
ah, seakan2, rakyat dan pemerintahan ini terpisah, mansing2 mengurusi urusannya sendiri. tak peduli dengan perihal masing2.
kalau saja mereka tau dan paham kalau negara ini terbentuk juga karena unsur2 itu ada. rakyat dan pemerintah, ya tentu saja urusannya nggak bisa di pisah.
hanya saja mereka belum mengerti, dan mungkin agak sulit memaksakan untuk mengerti melihat keadaan pemerintah dewasa ini.


Minggu, 06 April 2014

cinta

bukan perkara yang mudah memang untuk memahami arti cinta yang sesungguhnya.
jika itu hanya menyukai seseorang, ingin selalu dekat dgnya, tidak mau pisah, bahkan sampai rela melawan orang tua (dalam semesta non pernikahan) apakah bisa di sebut cinta?
inilah yang sering disalah artikan remaja saat ini. melihat cinta hanya dari sudut pandang kelabilan mereka. bahwa cinta haruslah memiliki, bahwa cinta adalah segalanya, bahwa cinta artinya MEMILIKI PACAR.
weww, parah banget kalau ngeliat fenomena anak smp yg pacaran sekarang, dengan mengatasnamakan cinta tentunya. well, bukan masalah pacar atau bukan tentunya, tapi kelakuan mereka dan dampaknya. terserah namanya apa, ttm, hts, teman dekat, kakak adek, atau apalah, yang jelas, jika didalamnya ada perilaku2 yang seharusnya tidak dilakukan di usia mereka, ya, tetap saja salah. belum lagi dampaknya. galau, malas belajar, beda fokus, dan lain2. nah, yang ini sudah saya lihat sendiri faktanya.
lagian, masa remaja tetap indah kok meskipun tidak diwarnai dengan hal2 semacam itu.
jangan heran, baik di kota, maupun di desa, anak smp nikah karena mba itu udah biasa. (naudzubillah). akhirnya? ya putus sekolah, masa depan nggak jelas, kan rugi.
"tapi kami nggak ngaapa-ngapain kok" iya detik itu kalian bisa bilang begitu, nanti siapa yg tau. asal tau aja ya, syaitan itu ada di mana2, yang udah akhwar-ikhwan, yg nikahnya tinggal seminggu lagi aja bisa terjerumus, apalagi .. ah sudahlah.

saya tidak berhak menjugde bahwa yg pacaran itu buruk, bukan saya juga yg berhak menentukan mereka berdosa atau tidak, karena saya tidak bekerja di manajemen dosa, tapi, lebih baik dipikirin lagi deh, di cari2 lagi ilmunya, di analisis lagi baik dan buruknya.

tulisan ini untuk remaja2 yg masih duduk di sma, smp bahkan sd yg mungkin ngebet banget pengen pacaran.
kalau buat yg tingkatan kuliah, ntar dulu ya, nunggu saya juga melewati masa itu :))
semoga bermanfaat

Jumat, 04 April 2014

sepotong episode kepengurusan

waktu berjalan cepat sekali, padahal, rasanya baru setahun lalu ane jadi formatur dan menentukan nasib teman2 ane :v,, eh sekarang udah mau pisah aja.
sedih? pasti, mungkin sejalan dengan tulisan ini ane akan mengeluarkan sedikit air mata ane yang mahal,, he he, sempat2nya becanda.
hanya tinggal sebulan lagi, ya sebulan, waktu yang tersisa untuk bersama mereka. tuh kan udah netes aja nih air mata -_-
sejak pertama ane tau kalau ane ditempatkan di MCN, ane sedang dong ya, kan memang pengennya ke sana, bukannya apa2, ane lebih suka kerja di balik layar, alasannya? karena sesuatu dan lain hal lah.
awalnya agak kaku, karena ane harus bekerja dengan senior juga dikepengrusan ini. karena ane orangnya nggak mudah akrab dengan rang, ane sempat berpikir, mungkin akan agak sulit, tapi, seiring dengan berjalannya waktu, semua itu berubah.
orangnya pada 'gila' semua :D, nggak kaku, mudah bergaul, walaupun saking gilanya, rapat yg mungkin bisa diselesaikan dalam waktu setengah jam, akan menghabiskan waktu 2 jam.
tapi, itulah yg mempererat ikatan kami. yah, walau selaku junior, ane dan teman2 ane yg sangklek itu sering bertingkah sedikit kurang ajar sama pengurus senior (maaf ya bg, kak :D)
tapi, memang seperti tidak ada jarak antara senior dan junior, mungkin karena sama2 sangklek kali ya,, jadinya gitu deh.
kalau di daftar, 3 orang yg harus mendapat permintaan maaf ane adalah bg fajar, bg sur dan bg randa,, he he, kalau bg fa dan bg sur sering kami buli, padahal bg fa ketum loh, trus, ane sering ngaku2 jadi kabid :D, kesian bg randa jadi bahan olokan temen2 sangklek ane :D
trus buat kak evi, yg sabarnya luar biasa dalam menghadapi kesangklekan pengurus2 lain,, hehe, ane juga mesti minta maaf. dan terimakasih karena kak evi selalu jadi ibu buat para pengurus.
mungkin memang nggak ada yg dikatakan bener2 kalem dan elegan di situ, tapi bagus deh, biar nggak kaku. jadinya, pas pleno kemaren, bukannya pada tegang, malah dijadiin ajang bercanda (tapi tetaap serius loh)
teringat masa ketika rapat, ketika ada agenda, keceriaan itu terus ada, masalah juga sering menghampiri, tapi, tetap tidak memutus ikatan baik antara kami, menurut ane sih begitu.
ah, septong episode ini insya Allah terus ane kenang hingga tua nanti.
dan tak lama lagi, semua ini akan berakhir, entah nantinya ane dan teman2 ane akan tetap berada di sana atau tidak pun kami tak tau., kalau senior sih pastinya nggak, kan mereka udah fokus ke ppl.
entah jika kami kembali ke sana apakah akan ada kegilaan seperti ini, entah apakah ikatannya akan kuat seperti ini, ane nggak tau, dan nggak pernah tau.
well, ane benar2 merasa nyaman berada di sana, di kepengurusan, mcn, bersama mereka,
rasnya ane sebulan ini mau ngelus2 mading mulu, sedih, kalau aja kepengurusn ini bisa bertahan 2 periode, ane rela :')
mungkin agak sedikit lebay, tapi, memang begini rasanya, karena sudah hampir setahun ini bersama, jadinya seperti sulit sekali ketika harus berakhir.
yg jelas, ane nggak akan pernah menyesal pernah bergabung di sini, bersama orang2 ini..

Kamis, 03 April 2014

lucunya negeri ini

beberapa waktu lalu saya membaca postingan bang tere, tentang orang yang melanggar larangan merokok di tempat umum dan lain sebagainya.
kali ini, beberapa hari yang lalu saya lihat langsung buktinya, beda kasus sih, ini di tempat wudhu.
ada orang yang pake sepatu ketika berada di tempat wudhu, langsung saja, teman saya, sebut saja UA, berbisik dengan keras (berbisik kok keras ya? :p) "eh, pakai sepatu," lha, orang yang dimaksud langsung menoleh ke kami, saya, (karena bawaannya netral mulu) diam saja dan melanjutkan berwudhu.

yah, sepenggal cerita itu mungkin membuat negeri ini terlihat lucu. mungkin pernyataan 'aturan dibuat untuk dilanggar' benar2 di terapkan. well, okelah jika tidak ada peringatan sebelumnya, tapi kan, jelas terpampang tulisan 'lepas alas kaki' kok ngeyel --"

mencoba husnuzhon saja sih, mungkin kakinya sedang apa gitu jadi nggak bisa lepas sepatu.semoga saja.
ada lagi ni, cerita di satu novel, ceritanya kan ada dua orang, lagi di dalam mobil. supirnya (atau temannya) itu, orang indonesia, nah, satunya lagi, orang korea, jadi, ketika melewati traffic light, lampunya itu udah mau merah, tapi, si supir malah langsung tancap gas, orang korea itu cuma bisa geleng2 kepala melihat tingkah laku para driver di negeri ini.

begitulah, saya pun tak urung lepas dari yang satu ini, jadi salah satu orang yang mmbuat negeri ini terlihat lucu. tapi, kita bisa ambil pelajaran di sini, bahwa, apapun, aturan apapun, dibuat pastinya memiliki manfaat, baik tersirat maupun tersurat. nah, jadi tak sepatutnya kita mesih ngeyel buat tidak menaati aturan itu.

karena saya juga manusia,tetap tidak pernah lepas dari kesalahan, jadi kita sama2 belajar memaknai aturan2 di kehidupan ini..

semoga bermanfaat ^_^

Rabu, 02 April 2014

prestasi dan pacaran

well, lagi2, ini yang saya bahas di sini. bukannya apa-apa, hanya saja, seakan pacaran telah menjadi sebuah prestasi di kalangan remaja (untuk sd, smp dan sma).
okey, that’s fine, jika saja hal itu tidak mengganggu saya. wew„ egois ya?? bukan.. bukan begitu maksudnya. begini, saya tak punya hak untuk mengatur hidup orang, melarang mereka pacaranlah, apalah, bukan hak saya untuk itu. mungkin kewajiban saya di sini hanya memberikan informasi tentang mengapa pacaran itu tidak ada dalam agama kita.
oke, jadi, saya bukannya egois ya ;) hanya tidak ingin membuat konflik
nah, lanjut ke pembahasannya.
tadi, ketika sedang mengajar, ada murid saya, sebut saja bunga, masih sd loh, katanya gini “eh, aku udah ada cowok”„
nah loh, ko jadi bangga gitu? —”
sebelum-sebelumnya juga, malah udah ngmongin mantan2 segala -_-
nah, itu sd, apa jadinya mereka kalau masa kanak2 di isi dengan hal2 dewasa macam itu. seharusnyakan mereka masih menikmati permainan anak2, bukannya main pacaran2 :|
dan jadi prestasi pula. yang nggak punya cowok di anggap culun kali ya.
begitu pula yang smp, dan pastinya lebih parah, karena masa itu adalah masa ababil. (untung saja saya sudah melewatinya)
masalahnya adalah, ada perilaku2 yang berubah ketika mulai pcaran. seperti murid saya yang lain, sebut saya mawar. jadi sering ngomngin cowoknya, belajarnya kurang, ah, padahal sebelum itu, rajinnya minta ampun.
tentu ini masalah bagi saya.
tapi, saya hanya sebatas guru les mereka. masih terhitung abg pula. pantaskah saya memberikan wejangan agar mereka nggak usah dulu terjerumus dalam pergaulan itu?
saya hanya bisa terdiam, mendengarkan, dan mengumpulkan informasi. mungkin, nanti, ketika saya sudah menjadi guru sungguhan, wejangan itu akan saya terapkan.

*tulisan ini bukan ingin menunjukkan ketidaksetujuan saya dengan hal satu ini, saya hanya tidak suka dengan dampak yang ditimbulkannya :)
so, jika ada yang tersinggung, mohon dimaafkan
<3 peace

Jumat, 28 Maret 2014

sudut pandang spesial

mungkin sekarang sedikit paham dengan yang namanya sudut pandang spesial.
ngeliatnya dari film-film sih.
ada beberapa di antaranya, ratatouille, ceritanya mungkin biasa, hanya berkisar tentang makanan yang unik, tapi yang berbeda adalah tokoh yang masak itu seekor tikus.
kemudian kungfu panda, banyak film yang berkisar tentang kungfu, tapi, yang membuatnya menarik (sampai ada sekuelnya) adalah tokoh panda gendut -yang bahkan tak pernah mengenyam pendidikan kungfu- yang bisa menjadi pendekar naga.
nah, banyak sekali ide-ide yang tak biasa, dan mungkin itulah sudut pandang spesial.
lalu dari buku, seperti buku2nya luna torashyngu, ide cerita yang di buku itu berbeda dari yang lain.
karena itulah, kita harus bisa melihat sesuatu yang berbeda dari suatu hal. maka, akan menjadi sudut pandang yang spesial.

semoga bermanfaat :)

pacaran



Pacaran, jangankan itu, pdkt aja ane nggak pernah. Sms sama cowk untuk hal yang nggak pernting aja jarang banget. Palingan ane sms sama yang udah lama nggak ketemu.
Kenapa ane nggak pacaran?
Alasan ke sekiannya adalah ane  masih beranggapan kalau pacaran itu nggak ada untungnya buat ane. Malah ngerugin, waktu ane habis, uang ane dan pulsa juga. Nah, jadi apa untungnya buat ane?
Lagian, nggak ada waktu. Ane juga nggak mau menzholimi orang. Bayangin aja, kalau pacar ane misalnya tinggal di kota baru, nah, mau ke rumah ane aja perjalanannya hampir satu jam, kesiankan?
Masak mau ngapelin aja waktunya habis di jalan, belum lagi kalau pulang, trus kalau malamkan jalannya gelap , nggak ada lampunya.
Alasan ke sekiannya lagi, ane nggak terlalu nyaman kalau berdua dengan cowok, rishi. Nggak tau juga sih kenapa, mungkin nggak biasa.
Trus, ane kan agak-agak freak tuh, menurut riset yang udah ane lakukan, cewek freak biasanya nggak dapet cowok normal, dapetnya cowok yang freak banget, (dalam kategori pacaran) jadi intinya, siapa yang kira2 ‘suka’ dengan ane? Pikir deh, bukannya ane merendah, hanya saja, begitulah fakta yang ada sekarang. Kalau sukanya dalah kategori teman sih ane kira semua orang (he he) tapi kalau lebih dari itu,, hem.. nggak tau deh.
Nah, seandainya asalan2 itu udah ada solusinya, maka yang akan membuat ane tetap bersikukuh untuk tidak pacaran adalah agama ane. Kan nggak ada tuh sunahnya buat pacaran, ada juga langsung nikah.
Tapi, ane nggak nyalahin orang yang pacaran kok, semua alasan ini karena memang beginilah keadaan ane. Jadi nggak ada hubungannya dengan orang lain. Ane kan bukan yang berhak menjugde orang, ane bukan bagian administrasi pahala dan dosa loh, jadi ane nggak berhak menilai apakah orang yang pacaran itu begini begitu. Dalam pikiran ane, yang penting udah tau ilmunya, dan ane udah mencoba untuk menshare ilmu tersebut, masalah di terapkan atau tidak, itu urusan individual.
Satu lagi, ini bukan bearti ane menganggap diri ane lebih baik dari orang lain. Karena hanya Allah lah yang berhak menilai kita.
Maaf jika tulisan ini menyinggung pembaca, ane hanya mau share buah pikiran ane aja kok. J
Semoga bermanfaat